Tips Mahasiswa Lindungi Diri dari Cyberbullying
Foto : Shutterstock

Yudi Kobo

18 September 2017


TIPS MAHASISWA LINDUNGI DIRI DARI CYBERBULLYING


Dari komentar jahat hingga ejekan kejam, Internet bisa menjadi mimpi buruk bagi banyak mahasiswa. Lebih buruk lagi, penindasan di dunia maya tampaknya terus meningkat di kampus. Jadi bagaimana kalian menghadapinya, dan bagaimana melindungi diri kalian dari perundungan di media sosial?

Belum lama ini, sekelompok siswa laki-laki di sebuah perguruan tinggi New England menciptakan sebuah kelompok Facebook pribadi di mana mereka bergosip, menyinggung, dan menyebarkan desas-desus tentang wanita-wanita yang tinggal di seberang lorong.

Lingkungan di asrama mahasiswa yang satu ini, yang biasanya ramai dengan obrolan di ruang rekreasi dan riuh rendah karena celotehan selama makan malam di ruang makan, tiba-tiba berubah saat salah satu dari mahasiswa tersebut mengungkapkan apa yang mereka diskusikan secara online. Berita itu menyebar dengan cepat. Para wanita muda yang menjadi obyek gosip menuntut untuk melihat apa yang tertulis di media sosial, dan merasa ngeri mendengar hal-hal yang dikatakan tentang mereka dan teman-teman sekamar mereka.

Beberapa wanita ini benar-benar berhenti bersosialisasi dengan teman-teman seasrama mereka yang lain, terlalu malu dan terkejut untuk move on dan hidup seperti biasa. Yang lain mengungkapkan bahwa mereka disakiti oleh orang-orang yang tinggal bersama mereka, dan merka percaya sebagai teman. Insiden tersebut membuat semacam geng berdasarkan lantai-lantai asrama, dan membuat mahasiswa di sana merasa rentan di tempat yang seharusnya mereka anggap rumah selama sisa tahun ajaran.

Saat ini, jenis perilaku seperti ini telah memprihatinkan banyak orang, disebut sebagai cyberbullying. Ini terjadi ketika seseorang atau kelompok ditargetkan atau menjadi korban online melalui pesan instan atau SMS, kelompok jaringan sosial, atau forum.

“Pelecehan verbal mencakup ejekan, pemanggilan nama yang merendahkan, ancaman, dan kekerasan verbal. Bullying fisik bisa termasuk memukul, menendang, meludah, mendorong, menggigit, dan mengambil barang-barang pribadi. Penindasan psikologis terdiri dari penyebaran rumor, pengucilan sosial, intimidasi, pemerasan, dan pelecehan seksual,” tulis Dr. Elizabeth Englander, seorang profesor psikologi dan Pendiri dan Direktur Pusat Pengurangan Agresi Massachusetts di Bridgewater State University.

Walaupun banyak dari kita berpikir bahwa para mahasiswa terlalu tua dan lebih matang (untuk melakukan cyberbullying—perundungan siber), sayangnya, tetap saja orang dewasa muda terus menargetkan dan melecehkan satu sama lain di perguruan tinggi—bahkan terkadang lebih buruk daripada di sekolah menengah atas. Dan sebuah kampus yang penuh keramahan bisa berubah menjadi ladang ranjau bagi mahasiswa, jika mereka menjadi target bullying.

Cyberbullying sangat seriusdan terkadang mematikan

Bullying, baik secara offline maupun offline, membuat mahasiswa (atau siapapun) merasa cemas dan rentan. Alih-alih berfokus pada kelas, nilai, dan peluang baru mereka, korban bullying mungkin hanya tinggal di rumah atau takut untuk masuk kelas, untuk menghindari pelecehan. Mereka mungkin mengalami isolasi, depresi, dan kecemasan sebagai hasil dari target atau penghinaan oleh teman-temannya. Dalam kasus yang ekstrem, mahasiswa sering terjebak dalam perilaku kekerasan atau bahkan bunuh diri karena diintimidasi.

Pada bulan September 2010, sebuah insiden yang terkenal menyadarkan Amerika untuk menganggap serius perundungan di dunia maya di perguruan tinggi. Setelah menjadi korban pelanggaran privasi dan diganggu secara online oleh teman sekamarnya, Tyler Clementi, seorang mahasiswa baru di Rutgers, The State University of New Jersey, melakukan bunuh diri. Menyusul kejadian tersebut, badan mahasiswa bersatu dalam Proyek Kesopanan Kampus. Keluarga Clementi juga memulai Yayasan Tyler Clementi untuk mencegah intimidasi di tahun 2011.

Banyak mahasiswa tidak menyadari seberapa sering bullying terjadi setelah masa SMA—dan mereka tidak mengira hal itu akan terjadi pada mereka. Menurut Graduate School of Education di University of Buffalo, 22 persen mahasiswa perguruan tinggi mengatakan bahwa mereka telah menjadi korban perundungan dunia maya; 38 persen mengatakan mereka mengetahui seseorang yang telah mengalami perundungan dunia maya.

Menurut para peneliti, mahasiswa mungkin bahkan tidak menyadari bahwa mereka telah diintimidasi, atau bahwa mereka telah menjadi pelaku intimidasi, sampai mereka ditanyai langsung mengenai hal itu.

“Kadang-kadang percakapan yang menghina dan santai dianggap lucu, tapi jika kalian terus mengulangi penghinaan tersebut dan kalian tidak bereaksi terhadap respons emosional korban kalian (misalnya terlihat sedih atau marah), maka kalian telah melakukan bullying,” kata Dr. Alexis Kennedy, seorang profesor di Departemen dari Criminal Justice di University of Nevada, Las Vegas, yang juga kuliah mengenai cyberbullying.

Meskipun ini adalah metode umum pelecehan, cyberbullying pada umumnya terasa berbeda dari perilaku perundungan offline; Kekerasan secara online lebih sering diabaikan tidak tampak "nyata." Terpisah oleh layar komputer mencegah peleceh untuk menilai konsekuensi tindakan mereka dengan tepat, atau bagaimana hal itu dapat mempengaruhi orang lain.

“Ada anonimitas yang dirasakan,” kata Dr. Kennedy. “Mereka mengatakan hal-hal yang tidak akan mereka katakan secara tatap muka karena mereka tidak dapat melihat reaksi orang lain.”

Cyberbullying di kampus

Menurut Dr. Kennedy, kebanyakan mahasiswa tidak memikirkan cara mereka memperlakukan satu sama lain karena mereka tidak melihat teman sebayanya sebagai pelanggar, peleceh, atau orang jahat.

“Mereka tidak ingin mendengarnya (tentang kenyataan cyberbullying di kampus) karena mereka pikir itu tidak berlaku untuk mereka, dan kemudian ketika sesuatu terjadi, mereka tidak tahu harus pergi ke mana,” katanya.

Ingatlah kalau kalian mengalami perundungan di dunia maya,  kalian selalu bisa minta bantuan. Ada konselor, teman, keluarga dan staf kampus dapat membantu kalian merasa aman kembali jika seseorang menargetkan kalian.

“Apa yang saya ingin mahasiswa mengerti adalah bahwa mereka tidak pernah sendiri dalam menghadapi ini,” kata Dr. Englander, yang juga menerbitkan penelitian tentang penindakan maya di kampus pada tahun 2010. “Ada banyak sumber daya dan orang yang dapat membantu mereka untuk mendapatkan dukungan dan membantu situasi seperti ini.”

“Sangat sulit bagi orang untuk tidak membela diri, dan pada dasarnya mereka ‘tak melakukan apapun’ dan tidak membiarkan orang lain membantu mereka,” kata J.A. Hitchcock, Presiden Working to Halt Online Abuse (WHOA). Jika situasi penindasan maya terjadi dan kalian ditargetkan, jangan membalas, katanya. “Ini reaksi alami, dan saat itulah keadaan bisa lepas kendali. Pengganggu dan peleceh itu tahu bahwa mereka membuat kalian terpancing, dan intensitas pelecehan bisa meningkat. Seolah-olah itu meningkatkan ego mereka.”

Bagaimana melindungi diri dari perundungan maya bagi mahasiswa

Cara yang baik untuk mencegah cyberbullying adalah waspada terhadap privasi dan ambil langkah untuk melindungi diri sendiri. Pikirkan jaringan dan aplikasi media sosial sebagai dinding di toilet umum, di mana orang-orang mencoret-coret dindingnya dengan kata-kata tak berarti. Setelah kalian memposting data pribadi secara online, data pribadi tersebut menjadi bahan bagi siapa saja yang ingin menargetkan Anda.

“Berbagi informasi tentang diri kalian secara online membuat informasi itu menjadi milik umum,” kata Dr. Englander. Dia merekomendasikan agar tetap menjaga detail mengenai diri kalian dan jangan membukanya untuk umum.

Pastikan kalian memahami bagaimana mengatur privasi untuk aplikasi dan situs yang kalian gunakan; pengaturan default belum tentu yang paling aman. Coba cari sendiri secara online untuk melihat bagaimana mengatur privasi dan keamanan di platform tertentu. Jika kalian tidak menyukai apa yang kalian lihat, maka ubahlah. Siapkan Peringatan Google Alert atau Talkwalker Alert gratis untuk nama kalian (termasuk nama panggilan/julukan) sebagai garis pertahanan pertama.

Ingatlah ini bukan tentang membiarkan diri selalu offline atau bahkan menarik diri dari pergaulan dunia maya—ini tentang menjadi aman dan cerdas. Para ahli membandingkan media sosial dengan mengendarai mobil: nyaman dan praktis, namun ada risiko setiap kali tangan kalian berada di belakang kemudi; kecelakaan mungkin terjadi. Yang bisa kalian lakukan adalah memastikan diri melakukan apa yang bisa dilakukan untuk melindungi diri sendiri.

Bagaimana cara memerangi cyberbullying di kampus

Berikut adalah beberapa cara sederhana yang dapat membantu mencegah perundungan dunia maya di kampus:

  • Menghormati orang lain dan memperlakukan mereka seperti kalian ingin diperlakukan.
  • Jangan berkontribusi terhadap cyberbullying dengan meneruskan atau menambahkan pesan yang kejam.
  • Jangan takut untuk berdiri melawan cyberbully dan laporkan tingkah lakunya kepada seorang dosen, dipercaya orang dewasa, atau bahkan polisi kampus. Si cyberbully adalah orang yang salah.
  • Siapkan kata sandi untuk mengunci komputer dan telepon saat kalian tidak menggunakannya.
  • Jangan pernah memberi tahu siapa pun sandi, passcode, atau PIN online Jangan pernah meninggalkan ponsel kalian tergeletak di sekitar.
  • Jangan pernah berbagi informasi pribadi, seperti alamat rumah atau nomor telepon kalian, secara online.
  • Jangan pernah mengambil gambar atau video “tanpa pakaian” atau tak pantas mengenai diri kalian atau teman di ponsel. Bahkan jika kalian hanya membaginya di antara teman, video seperti itu bisa segera menyebar seperti api.
  • Pikirkan dua kali sebelim kalian bereaksi/berkomentar terhadap sesuatu secara online.
  • Jika kalian menjadi korban perundungan online, hentikan orang yang melakukannya dari media sosial atau akun olahpesan cepat, dan komunikasikan hanya dengan orang yang kalian kenal.
  • Tingkatkan kesadaran akan konsekuensi serius dari penindasan maya dengan teman dan komunitas kalian.
  • Bicaralah dengan keluarga kalian tentang apa yang kalian lakukan secara online; jangan menutup mereka dari kehidupan online
  • Jika kalian tidak berani mengatakannya secara langsung, jangan katakan secara online.

Ingat: kalian bisa menjadi agen perubahan di dunia ini dengan melakukan kebaikan dan kesopanan secara online. Kalian juga memiliki kekuatan untuk berdiri melawan pengganggu jika kalian melihat orang lain mengalami cyberbullying. Jadilah jenis sekutu dan teman yang kalian inginkan ada di sisi kalian. Seperti yang dikatakan O'Brien, “Kita sebagai sebuah komunitas hanya bisa mencegah pem-bully dari mem-bully.”


Sumber : collegexpress


comments
no comment

LAINNYA